Senin, 01 April 2013

Burung dan Manusia : Mampukah Hidup dalam Satu Habitat?


Berbicara mengenai burung tidak akan ada habisnya. Satwa ini dapat dijumpai mulai dari pesisir pantai hingga kawasan pegunungan. Oleh sebab itu, sudah menjadi hal yang wajar apabila kita menyebut kawasan perkotaan (dengan penggunaan lahan yang intensif) sebagai salah satu habitat bagi komunitas burung. Hubungan antara penggunaan lahan dengan komunitas burung merupakan hal yang menarik untuk dipelajari. Hal ini dikarenakan dengan memahami hubungan antara penggunaan lahan dan keanekaragaman hayati, akan mempermudah dalam memahami hubungan antara manusia dan lingkungannya. Selain itu, pemahaman tersebut juga dapat dipergunakan sebagai modal awal untuk merancang konservasi  suatu komunitas pada suatu habitat tertentu, salah satunya komunitas burung.

 
Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengadopsi konsep perubahan laskap untuk mendefinisikan tipe penggunaan lahan ke dalam intact, variegated, fragmented, dan relictual. Tipe penggunaan lahan dalam penelitian ini berbeda dengan definisi yang umum dipakai, karena sangat mempertimbangkan luasan habitat yang ada. Hal ini dilakukan agar lebih fokus untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh karakter habitat dan tipe penggunaan lahan terhadap keanekaragaman jenis burung.
Proses penelitian dilakukan selama bulan April hingga Juni 2012 di Kabupaten Sleman. Setelah proses penelitian selama 3 bulan dengan 600 titik pengamatan, ditemukan 56 jenis burung. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa komunitas burung di Kabupaten Sleman dipengaruhi oleh karakter habitat dan tipe penggunaan lahan. Adapun variabel yang mempengaruhi adalah luas habitat intact dan variegated, luas habitat fragmented dan relictual, prosentase penutupan tajuk intact dan variegated, persentase penutupan tajuk fragmented dan relictual, jumlah tipe penggunaan lahan, suhu intact dan variegated, dan suhu fragmented dan relictual. Oleh sebab itu, jika ingin kita ingin melihat lebih banyak lagi burung di Kabupaten Sleman…penting rasanya menjaga kondisi habitat burung dan penataan kawasan (penggunaan lahan) yang bijak.
“Matur nuwun” untuk semua yang telah membantu proses penelitian ini,,Sekian***

Judul Asli : Pengaruh Karakter Habitat dan Tipe Penggunaan Lahan terhadap Keanekaragaman Jenis Burung di Kabupaten Sleman
Peneliti : Mukti Nur R (Gundul)


Selasa, 30 Oktober 2012

Karakter Habitat Primata Terkecil di Sekitar Rawa Gambut Tanjung Puting




Tarsius sp. merupakan satwa terkecil sekaligus satwa aboreal yang menghabiskan sebagian besar aktivitasnya berada di pepohonan. Panjang tarsius borneo dewasa berkisar antara 12,9 sampai dengan 13,2 cm. Sering juga disebut binatang hantu, karena hewan ini sangat susah ditemui, terkadang hanya suara dan urine yang menjadi pertanda kehadirannya. Tarsius bancanus lebih pasif dalam bersuara, tidak seperti Tarsius spectrum yang dapat dengan jelas diketahui keberadaannya dari “paduan suara keluarga” yang mereka lakukan menjelang pergantian siang dan malam. Tanjung Puting yang dominasi kawasannya merupakan rawa berbeda dengan karakter habitat lokasi manapun yang pernah dilakukan penelitian mengenai Tarsius sp. khususnya Tarsius bancanus borneanus. Bagaimanakah karakter habitat tarsius di kawasan rawa Tanjung Puting?


Untuk mengetahui karakter habitat tarsius di rawa, pada akhir Oktober sampai dengan Desember 2011 dilakukan penelitian di dua lokasi yaitu Pondok Ambung dan Tanjung Harapan, Tanjung Puting. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa tarsius lebih suka kawasan dengan dominansi kelas hidup tiang dengan sedikit pohon didalamnya dan pada kawasan 0-3 meter dari permukaan tanah. Kondisi tersebut sangat ideal bagi tarsius karena diketinggian 0-3 meter dapat meminimalkan persaingannya dengan kukang. Disamping itu penutupan semak yang rapat pada ketinggian 0-3 meter menjadi pelindung bagi tarsius dari pedatornya, yaitu burung hantu.

Judul Skripsi : Karakteristik Habitat Tarsius Borneo (Tarsius bancanus borneanus) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Peneliti : Mas’ud A. Ashari
Contact : masudashari@yahoo.com

Minggu, 29 April 2012

LIFE AFTER MERAPI ERUPTION: The Return of The Long-tailed Macaque




by : Choiriatun Nur Annisa

November 2010 was the latest big eruption of one of the most active volcano mountains in the world, Gunung Merapi. As the last remaining forest in Yogyakarta, it compromises the habitat for many species including primates. Tlogo Muncar and Tlogo Nirmolo are known as two important habitat of the long-tailed macaque. The Tologo Muncar was affected by eruption, whereas  Tlogo Nirmolo was not. Were they able to survive from the eruption? How’s their life after the devastation? Did they come back to their original habitat?
In February 2011, the author conducted a field work to investigate the population size after eruption. Concentration counts was applied to counts number of individuals, due to very steep topography in the study area. The number of individuals in Tlogo Muncar was higher than before  which should be lower than previous number. Suprisingly, the Tlogo Muncar population even was far higher than Tlogo Nirmolo Population .

vegetation conditions after eruption in Tlogo Muncar

To investigate further explanation why Tlogo Muncar population is higher than Tlogo Nirmolo population, Annisa collected vegetation data using point centered quarter method, collecting evidence of other habitat factors such as water and covers. Five out of 13 feeding species were still found in Tlogo Muncar and either the most frequent also most dominant species were eaten by the macaque. It seems that food is not the limitation factors for the population because this population experienced food supplementation from tourist. Water and covers were also still supporting this population. Although Tlogo Muncar and Tlogo Nirmolo are neighbouring areas, the vegetation in both locations were not close similar, based on the assessment using Sorensen similarity index. Even, the most dominant species and frequent species in both location were different.
Long-tailed macaque population in Tlogo Nirmolo

 Furthermore, Annisa tried to compare population structure. She found that the group size in Tlogo Nirmolo was female deficit. It indicated a high competition between male to get female, and low birth rate. The less number of infant and juvenil in Tlogo Nirmolo was also the evidence. In Tlogo Muncar, the female was still higher than the male. Therefore, the competition would not be as high as in Tlogo Nirmolo. The indication was also from the number of infant and juvenile that was still high (40,8%) in Tlogo Muncar. Another explanation is the ability of long tailed macaque to disperse and avoid effect of eruption. When, the eruption attacked, they might be migrate to somewhere safe as being reported by the official, then came back as soon as it sprouted. From the observation, it seemed that sprouting was not taking long time. Survey on 12 January 2011 in Tlogo Muncar found that some ‘dead’ trees had sprouted. In addition, only one individual was reported death from the eruption. Indicating, that the population of long tailed macaque in Tlogo Muncar was able to survive from the eruption. 

contact: cn.annisa@yahoo.co.id